Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

Ketika Domba Menginjil dan Gembala Berkipil

Gambar
Dulu Gembala berseru: “Bertobatlah dan hiduplah benar!” Kini suaranya lembut tapi isinya hambar. Salib disingkir, diganti motivasi murah, Firman jadi alat, bukan lagi anugerah. Dulu Injil menelanjangi dosa dan memanggil pada salib suci, Kini Ia dibungkus psikologi, menyenangkan telinga dan menenangkan hati Gembala lupa: iman timbul dari Firman, bukan dari perasaan  Bahwa kasih sejati menegur, bukan sekadar menenangkan. Domba-domba pergi membawa Injil murni, Sementara Gembalanya sibuk menghitung amplop dan kursi. Ia berbicara tentang berkat, tapi lupa tentang darah, Hanya berfokus pada manusia, dan bukan tentang Allah. Kini gereja gemerlap tapi kosong di dalam, Pujian bergema tapi roh kehilangan salam. Domba menginjil di lorong dunia yang gelap, Karena Gembalanya berkipil menjual terang untuk gemerlap. Domba yang lapar bangkit, menggenggam Alkitab lusuh, Mengabarkan Kristus yang disalib, bukan Kristus yang palsu. Sebab lebih baik domba bersuara dengan luka yang bena...

Jantrung

Diujung langit titik membersit, nampak nelangsa menentu takdir Engkau telah meletakan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan Mu Lalu pergi nun jauh berpaling, meninggalkan caksuswara berkuasa, sambil itu Memperhatikan kehidupan gandum dan ilalang Sebagian atma segera di cabut, agar nyata murka dan kemuliaan Sebagian lainnya Kau biarkan tumbuh dan berbuah atau bahkan layu dan kering Jika CINTA adalah yang terutama, lalu kenapa semua ini terjadi? Jika KASIH adalah yang terbesar, lalu mengapa terasa menyakitkan? Mereka tak akan mengerti, sekalipun tidak! Hanya merengek dan terus merengek, Lalu Meratap dan terus meratap, tapi Yang lainnya bersuka cita dan terus bersuka, sayangnya Jumlahnya sangat sedikit, ku kira Kupang, 2015 NB: Jantrung: Termenung-menung