Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

TANGGAPAN TERHADAP SURAT PENEGASAN SINODE GMIT, SEKALIGUS MEMBANTAH ASUMSI MIRING PUBLIK TERKAIT IBADAH ‘RABU ABU’

Gambar
Kepada Yth. Ketua Majelis Sinode GMIT Di       Tempat   TANGGAPAN TERHADAP SURAT PENEGASAN SINODE GMIT, SEKALIGUS MEMBANTAH ASUMSI MIRING PUBLIK TERKAIT IBADAH ‘RABU ABU’ Shalom… Surat ini adalah tanggapan saya terhadap surat penegasan dari Majelis Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) tanggal 18 Februari 2021 kepada Ketua Majelis Jemaat GMIT Paulus, tentang Perayaan ‘Rabu Abu’ yang dilaksanakan oleh Jemaat Paulus pada Rabu, 17 Februari 2021, sekaligus membantah asumsi – asumsi miring terkait ibadah/perayaan ‘Rabu Abu’ yang saya baca di berbagai media sosial (Medsos). Sebelum saya masuk pada poin yang ingin saya tanggapi, saya perlu menegaskan beberapa hal terlebih dahulu. Pertama: Fokus perhatian saya disini lebih kepada tanggapan terhadap surat Majelis Sinode GMIT tersebut, bukan ikut campur atau mengurusi kegiatan atau apapun yang dilakukan di Jemaat Paulus. Itu bukan fokus saya. Kedua: Tanggapan saya disini terlepas dari apa yang terjadi atau bagaimana isi l

Thank You Friedrich Nietzsche

Gambar
Beta cukup sering menentang pandangan orang-orang kristen yang mengabaikan doktrin dan lebih menekankan pada perbuatan baik seperti; kesalehan hidup, menolong sesama, dan hal-hal senada. Orang-orang yang menyebut dirinya kristen ini menganggap bahwa melakukan aksi-aksi kemanusiaan lebih penting dari pada doktrin. Beta jelas menentang pandangan seperti itu. Pandangan seperti itu bukan pandangan Kristen dan asing bagi Alkitab. Tentu saja, perilaku tertentu merupakan hasil dari Kekristenan, tetapi perilaku itu bukan Kekristenan. Di lain sisi, ada sebagian orang kristen yang gerah, tidak nyaman dan aneh, kenapa kok ‘sesama Kristen’ saling menentang, saling berdebat?! Entah mereka lupa atau tidak tahu, sejak awal kekristenan memang diwarnai dengan perdebatan dan perselisihan interen. Penyesatan dan kemunculan bidat-bidat menjadi musuh bebuyutan dalam kekristenan yang tak kunjung habis-habisnya. Sebenarnya tidak perlu kaget dan aneh, karena Alkitab sendiri mengisahkan dan sudah menubuatkan

Teologi Kidung Jemaat

Gambar
Dalam menafsir Alkitab, eksegese adalah hal yang sangat penting. Jika anda ingin menafsir ayat tertentu, maka anda harus menggali konteks dari ayat tersebut. Anda harus memeriksa bahasanya, budaya, latar belakang munculnya ayat tersebut, dan sebagainya. Hal-hal ini yang penting dilakukan agar kita bisa tahu ayat tersebut menceritakan tentang apa. Jika hal-hal tersebut diabaikan, maka eisegese-lah yang terjadi, atau tafsiran anda keluar dari konteks ayat tersebut. Demikian juga halnya dengan Menyanyikan Kidung Jemaat (KJ) untuk lagu jemaat. Harus dieksegesis terlebih dahulu lagu KJ yang ingin dinyanyikan. Eksegese KJ disini terkait apa biramanya, bagaimana bunyi nada, tanda lagu dan lain sebagainya agar dapat menyanyikan lagu KJ tersebut dengan benar. Kalau kita tidak memperhatikan hal-hal tersebut, maka eisegeselah yang terjadi atau anda akan memainkan lagu tersebut diluar konteks aslinya, pada hal lagu tersebut untuk dinyanyian jemaat. Kalau untuk nyanyian jemaat, ukurannya adalah per

IMAN BUKAN PERBUATAN BAIK

Gambar
Sering mendengar kalimat doa begini: "biarlah Firman ini tidak lalu begitu saja, tapi juga kami lakukan dalam kehidupan kami sehari-hari". Beta tidak katakan kalimat tersebut salah. Berkata demikian juga boleh-lah. Hanya penting untuk dipahami bahwa tujuan utama mendengar/membaca Firman bukan untuk ditaati atau untuk dilakukan. Kalau tujuan membaca Firman hanya sebatas demikian, maka tidak perlu membaca Firman pun orang bisa berbuat baik. Seorang ateis tidak perlu membaca Alkitab hanya agar dia tidak membunuh, mencuri, dll. Tidak perlu juga menjadi Kristen hanya agar bisa berbuat baik. Ada orang Kristen yang tidak pernah bergereja pun juga tidak mencuri, membunuh dll.  Lalu apa gunanya mendengar/membaca Firman? Roma 10:17 berkata: "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus". Tujuan membaca dan mendengar Firman adalah untuk MENUMBUHKAN IMAN, bukan (sekedar) untuk berbuat baik. Alkitab bukan hanya berisi hal – hal berupa moralitas praktis