Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Musik Gereja Protestan Tidak Memiliki Akar yang Kuat?

Gambar
Klaim bahwa musik gereja Protestan tidak memiliki akar yang kuat  merupakan tuduhan yang menarik sekaligus tidak lazim. Sekilas tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan kompleksitas historis dan teologis yang perlu dicermati dengan baik. Pertama-tama, perlu digarisbawahi bahwa istilah Protestan sendiri mencakup spektrum denominasi yang amat luas. Dari Lutheran, Reformed, Anglikan, hingga Evangelikal kontemporer. Karena itu, pernyataan umum bahwa “musik gereja Protestan tidak berakar kuat” menjadi problematis apabila tidak disertai klarifikasi: Protestan yang mana, dalam konteks apa, dan menurut ukuran teologis musikal yang bagaimana? Dugaan beta, klaim semacam ini berangkat dari pembacaan yang bersifat historis, bahkan mungkin dari perspektif yang masih terikat pada paradigma liturgi Gereja Barat pra-Reformasi. Maka, tanggapan yang proporsional harus ditempatkan dalam kerangka sejarah perkembangan musik gereja itu sendiri, yakni sejak era Reformasi abad ke-16 yang menjad...

Debat "IVAN BARTELS vs SUSTER IDA FREDERIK KUIL" (Tentang Dogma Immaculata Conceptio)

Gambar
Ini adalah salinan diskusi beta dengan seorang suster Katolik Bernama Ida Frederika Kuil di lapak seorang teman, di sini . Diskusi berawal ketika suter Ida menanggapi postingan seorang teman tersebut, kemudian beta mananggapi suster tersebut, dan kita berdua pun saling menanggapi. Berikut diskusi beta dan suster Ida Frederika Kuil. Selamat menikmati.   Ida Frederika Kuil:  Argumen yang kau kemukakan dalam percakapan menunjukkan kesalahpahaman mendasar tentang ajaran Katolik mengenai Maria dan dosa asal: Pertama, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa karena Maria melahirkan Yesus, maka Maria harus secara biologis menurunkan “ketiadaan dosa” kepada-Nya. Ketidaktercemaran Maria bukan hasil logika biologis, melainkan anugerah ilahi yang diberikan oleh Allah karena rencana keselamatan-Nya melalui Kristus. Dogma Immaculata Conceptio (Maria dikandung tanpa noda dosa asal) menyatakan bahwa Allah menebus Maria secara istimewa sejak awal hidupnya, bukan karena Maria sec...

Menanggapi Pdt. Elina Welmiria Otu tentang: Tafsiran Yohanes 8:32, Alkitab, dan Doktrin.

Gambar
Berikut adalah tanggapan beta dan juga diskusi dengan Pdrt. Elina Welmiria Otu tentang tafsiran Yohanes 8:32. Berikut tanggapan dan diskusinya: Elina Welmiria Otu: https://www.facebook.com/elina.welmiria/posts/pfbid02suhaWqLrtbf1dwfY4mnpzCzf2MBPAswpmyM9oY6ZeaGx3Dy4zvk113FKHZkEPGHul?rdid=WiXLb5Cn7E8CYzSq# Ivan Bartels : https://vanbarts.blogspot.com/2025/10/blog-post.html Elina Welmiria Otu: Terima kasih untuk tanggapan yg diberi. Jika kk baca baik2 tulisan sy, tidak ada maksud mengabaikan doktrin. Tetapi maksud saya adalah "Alkitab" menjadi sumber utama dalam setiap penyusunan khotbah, dogma, doktrin ajaran n tulisan2 teologi lain. Dogma/doktrin dll itu penting dan baik, selama ditulis dengan berpedoman pada Firman Tuhan (Alkitab). Sy yakin kk sudah mengetahui inti pandangan para reformator: Otoritas Alkitab lebih tinggi dari dogma/doktrin dll karena itu bentuk kritik mereka terhadap sistem gereja pra reformasi yang cenderung lebih mengutamakan dogma dan doktrin daripa...

𝐀𝐋𝐊𝐈𝐓𝐀𝐁 𝐃𝐈𝐓𝐀𝐅𝐒𝐈𝐑 𝐒𝐄𝐒𝐔𝐀𝐈 𝐊𝐎𝐍𝐓𝐄𝐊𝐒 𝐉𝐀𝐌𝐀𝐍?

Gambar
Ini adalah tulisan beta berupa tanggapan terhadap tulisan seorang pendeta  di sini . Berikut tanggapan beta:  Jika Yohanes 8:32 ("kebenaran akan memerdekakan kamu") dipahami semata-mata menurut konteks jaman, maka logika yang dipakai mengandung kelemahan fatal. Sebab bila di zaman Yesus konteksnya adalah pembebasan rohani, lalu di zaman Reformasi konteksnya bergeser menjadi pembebasan dari belenggu institusi Roma, maka berarti setiap generasi berhak menafsirkan "kebenaran" menurut tekanan sosial-politik yang mereka alami. Konsekuensinya, "kebenaran" tidak lagi menunjuk pada realitas objektif yang Yesus maksudkan, melainkan hanya menjadi cermin keadaan zaman. Jika itu konsisten diterapkan, maka pada abad ke-20 ayat ini bisa ditafsirkan sebagai “kebenaran akan membebaskan dari kolonialisme,” lalu di abad ke-21 menjadi “kebenaran akan memerdekakan dari algoritma media sosial.” Bahkan, di masa depan, orang bisa menafsirkan bahwa “kebenaran” berarti teknologi k...