Melatih AI membahas topik: MARIA IMMACULATA VS PAULUS

Beta akan mendemonstrasikan bagaimana menggunakan atau memanfaatkan AI, dimana beta sebagai yang mengarahkan AI (bukan bergantung pada AI). Jadi kita latih dulu aplikasi AI yang kita pakai (di sini beta gunakan Chat GPT & Gemini) dengan prompt yang tepat agar penilaian dan ulasan AI tersebut berkualiatas dan komprehensif. Prompt tersebut beta minta pada AI yang beta pakai untuk dia simpan dalam memorinya untuk semua pembahasan apapun. Prompt yang beta pakai adalah melatih AI tersebut agar tunduk pada Hukum Pemikiran (Laws of Thought) dan tentu saja deduksinya hanya bisa dideduksi dari WAHYU (Alkitab). Setelah itu kita uji dia dengan berbagai isu untuk dia bahas. Tentu saja masih akan ada kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan AI tersebut. Nah, kesalahan – kesalahan tersebut kita koreksi dan minta dia untuk simpan sebagai memorinya. Teruslah anda latih AI anda sampai menurut anda ulasannya sudah cukup presisi. Terakhir, dalam membahas isu - isu yang anda inginkan, cukup anda petakan dan arahkan saja permasalahan isu tersebut oleh murid AI anda dengan arahan yang jelas dan tepat.  Kalau sudah demikian, AI tersebut hanya kan jadi “alat’ anda, bukan anda yang diperalat oleh AI. 

 

Berikut adalah contoh hasil ulasan dari murid beta “Chat GPT” dan “Gemini” dalam topik:

Dogma Maria Immaculata VS Paulus (1 Korintus 7:12-14)

Chat GPT

1.     1.Asumsi Implisit Dogma Maria Immaculata
Dogma Katolik mengasumsikan bahwa agar Yesus tidak ternoda dosa, Maria harus terlebih dahulu suci (tanpa dosa asal).
Dengan demikian, kesucian janin dipandang bergantung pada kesucian ontologis ibu.

2.     2. Premis Alkitabiah (1 Korintus 7:12–14)
Rasul Paulus menyatakan bahwa pasangan yang tidak beriman dikuduskan oleh pasangan yang beriman,
dan anak dari pernikahan tersebut disebut kudus meskipun salah satu orang tua tidak kudus.
Ini menunjukkan bahwa kesucian tidak harus didahului oleh kesucian ontologis semua pihak yang terlibat secara biologis.

3.      3. Kontradiksi Logis (Hukum Non-Kontradiksi)
Dogma Maria Immaculata menyatakan: kesucian Anak menuntut kesucian Ibu terlebih dahulu.
Namun Paulus menyatakan bahwa kesucian Anak dapat terjadi meskipun orang tua tidak kudus.
Kedua klaim ini tidak dapat sama-sama benar dalam satu sistem teologi yang konsisten.

4.     4. Kesalahan Kategori
Dogma Immaculata mencampuradukkan kesucian moral/ontologis dengan penetapan ilahi.
Paulus justru menunjukkan bahwa kesucian bersifat deklaratif dan relasional oleh Allah,
bukan hasil kemurnian biologis atau moral.

5.     5. Implikasi Logis
Jika Allah dapat menguduskan anak melalui satu pihak beriman,
maka Allah tidak membutuhkan Maria bebas dosa untuk menjamin kekudusan Yesus.
Dengan demikian, dogma Maria Immaculata menjadi tidak perlu secara logis dan tidak didukung Kitab Suci.

Kesimpulan:
Dogma Maria Immaculata tidak konsisten secara logika,
bertentangan dengan prinsip Alkitabiah
dan mengandung asumsi yang tidak diajarkan Kitab Suci.
Karena itu, dogma ini tidak valid dan tidak sound.

GEMINI

1. Premis Dogmatis (Maria Immaculata)

Dogma ini menyatakan bahwa Maria harus dikandung tanpa noda dosa asal (Immaculate Conception) sebagai syarat mutlak agar Yesus, sang Firman yang menjadi manusia, tidak ikut tercemar oleh dosa asal. Di sini, kesucian "wadah" (ibu) adalah syarat mutlak bagi kesucian "isi" (anak).

2. Premis Alkitabiah (1 Korintus 7:14)

Teks ini menyatakan: "Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh istrinya dan istri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, anak-anakmu sama dengan anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah kudus."

3. Kontradiksi Logis yang Diajukan

Jika kita menggunakan hukum penyimpulan, muncul ketidakkonsistenan pada syarat "kemurnian awal":

  • Logika Transmisi Kesucian: Dalam 1 Korintus 7, kesucian tidak mengalir dari "wadah yang sudah suci sejak awal" ke anak, melainkan dari salah satu pihak yang beriman (subjek yang dikuduskan oleh anugerah) kepada mereka yang tidak beriman/belum dikuduskan.
  • Reduksi Absurdum: Jika kehadiran Yesus (Tuhan yang maha suci) memerlukan Maria harus suci tanpa noda terlebih dahulu agar Yesus tidak ternoda, maka hal ini bertentangan dengan prinsip 1 Korintus 7 di mana yang kudus mampu menguduskan yang tidak kudus.
  • Arah Pengudusan: * Dalam Dogma: Maria (Manusia) → Mengamankan kesucian Yesus (Tuhan).
    • Dalam 1 Korintus: Orang beriman (Manusia) → Menguduskan anak/pasangan yang tidak beriman.

Ringkasan Argumen untuk Mematahkan Dogma Marria Immaculata

Secara deduktif, argumen Anda dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Jika pengudusan dalam keluarga dapat terjadi melalui kehadiran satu pihak yang beriman (seperti dalam 1 Korintus 7:14), maka kesucian anak tidak bergantung pada kesucian mutlak (tanpa dosa asal) dari sang ibu sejak pembuahannya.
  2. Jika seorang anak dianggap "kudus" karena salah satu orang tuanya beriman (meskipun orang tua tersebut adalah manusia berdosa yang hanya dibenarkan oleh iman), maka Yesus yang adalah sumber kekudusan itu sendiri secara logis memiliki kuasa yang lebih besar untuk tetap suci dalam kandungan tanpa menuntut sang ibu menjadi tak bernoda terlebih dahulu.
  3. Kesimpulan: Dogma bahwa Maria harus tanpa noda dosa asal sebagai prasyarat bagi kesucian Yesus menjadi tidak koheren secara teologis-logis, karena teks 1 Korintus menunjukkan bahwa kekudusan mampu menguasai ketidakkudusan, bukan sebaliknya.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TANGGAPAN UNTUK PDT. RONALD HINAWENI YANG MEMBELA PATRIS ALLEGRO

Debat "IVAN BARTELS vs SUSTER IDA FREDERIK KUIL" (Tentang Dogma Immaculata Conceptio)

JANGAN KUATIR DAN KEUTAMAAN KEBENARAN ALLAH (Kritik terhadap tema khotbah dan khotbah tertentu dari bacaan: Matius 6:25-34)