TANGGAPAN UNTUK PDT. RONALD HINAWENI YANG MEMBELA PATRIS ALLEGRO
Kalau tidak salah ingat, Pdt. Ronald Hinaweni ini pernah janjian untuk berdisusi dengan kami sewaktu Sidang Istimewa kemarin tapi tak kunjung ada, tau-taunya muncul dengan tulisan ini. Ok, berikut ini adalah tanggapan beta untuk Pdt. Ronald Hinaweni, yang akan beta tanggapai secara per poin dari argumen – argumen maupun komentar - komentar beliau.
GEREJA LOKAL, ARUS DENOMINASI DAN
ETIKA KOMUNIKASI IMAN.
Ronald: Saya adalah seorang
pendeta GMIT, Kristen Protestan. Sejak masa studi teologi S1, saya telah
bergumul bukan hanya dengan ilmu teologi, tetapi juga dengan ilmu komunikasi.
Pergumulan itu lahir dari sebuah keresahan panjang: derasnya arus masuk
denominasi-denominasi Kristen Protestan ke wilayah gereja lokal, termasuk GMIT,
yang dari waktu ke waktu tidak hanya hadir sebagai mitra, tetapi sering tampil
sebagai penyerang.
Pola ini berulang. Setiap ketua
sinode baru dilantik, gereja lokal kembali menjadi sasaran delegitimasi. Bukan
melalui dialog teologis yang sehat, melainkan lewat panggung-panggung KKR,
siaran radio, dan kini media sosial. Serangan itu sering dibungkus rapi dengan
bahasa “Firman Tuhan” dan “nama Yesus”, seolah-olah kebenaran hanya dimonopoli
oleh satu tafsir dan satu kelompok.
Ivan: Pertama, ada kesan Ronald mengasumsikan ‘menyerang’ sama dengan tindakan yang tidak baik atau memberi label begatif, tanpa memberikan justifikasi serangan seperti apakah itu, atau apa definisi ‘menyerang’ yang Ronald maksudkan. Kalau yang Ronald maksudkan adalah mengkritisi GMIT secara logis dan teologis, apakah itu suatu yang salah? Kalau demikian, maka Ronald (yang mungkin berusaha dengan logis dan teologis) mengkritik para penyerang yang menyerang dengan logis dan teolpgis bahwa dia tidak mau GMIT dikritik oleh denom lain secara logis dan teologis. Dalam bahasa teknis logika, ini di sebut kesalahan berpikir Special Pleading atau Standar Ganda. Kalau memang demikian, inikah wujud dari komunikasi berkualitas yang Ronald demonstrasikan?
Kedua, Ronald memberi kategori dialog teologis yang
sehat dengan menegasikan bahwa KKR, siaran radio, dan media sosial sebagai
bukan media dialog teologi yang sehat. Ini adalah bentuk kesalahan berpikir Category
Mistake (Kesalahan Kategori), Dimana Ronald mencampuradukan antara media
penyampaian kritik dan substansi/pesan. Dan apakah ada larangan mengkritik melalui
KKR, siaran radio dan medsos? Bukankah penyampaian Injil atau Kabar Baik adalah
merupakan kritik keras terhadap kesalahan? Inikah Kualitas ilmu komunikasi yang
Ronald demonstrasikan?
Ketiga, Pada kaimat terakhir pararaf kedua, Ronald menolak adanya monopoli tafsir. Apa maksud ‘monopoli tafsir’ di sini? Apakah bentuk pemaksaan kehendak? Nampaknya tidak. Jadi mungkin yang Ronald tolak adalah klaim kebenaran yang bersifat eksklusif. Sepertinya Ronald tidak sadar bahwa secara logis, setiap klaim kebenaran religius (termasuk klaim Ronlad pada tulisannya) secara intrinsik bersifat eksklusif. Menuduh pihak lain "memonopoli tafsir" akan jatuh pada Relativisme. Jika tidak ada yang boleh "memonopoli" (memegang teguh satu tafsir sebagai kebenaran), maka kebenaran itu sendiri menjadi cair dan kehilangan nilai kepastiannya.
Ronald: Ironisnya, banyak dari mereka adalah orang-orang yang dilahirkan, dibesarkan, dan dibentuk oleh gereja lokal. Mereka bertumbuh dalam rahim GMIT, namun kemudian kembali bukan sebagai anak yang berdialog, melainkan sebagai hakim yang menghakimi. Gereja lokal dilabeli sesat, mati rohani, atau tidak alkitabiah. Bahkan bukan hanya GMIT yang diserang, tetapi juga saudara-saudara seiman dari Gereja Katolik dan agama-agama lain, semuanya atas nama iman Kristen Protestan.
Ivan: Secara logis, asal-usul
seseorang (genesa) tidak menentukan validitas argumennya di masa depan.
Mengungkit bahwa mereka "tumbuh dalam rahim GMIT" untuk
mendiskreditkan posisi mereka saat ini adalah bentuk Genetic Fallacy (Kekeliruan
Genetik). Seseorang bisa saja berasal dari sistem A, lalu menemukan
kesalahan dalam sistem A berdasarkan data baru, dan kemudian mengkritiknya.
Validitas kritik mereka harus diuji berdasarkan isi kritiknya, bukan
berdasarkan sejarah dari mana asal mereka.
Hal lainnya, Ronald juga
terindikasi kuat melakukan Ad Hominem terselubung, yaitu alih-alih membedah
argumen teologis dari para penyerang, penulis menyerang karakter dan latar
belakang mereka (misal: "orang yang dibesarkan di rahim GMIT tapi menjadi
hakim"). Ini adalah upaya mengalihkan substansi kritik dengan menyoroti "ketidaktahuan
diri" sang pengkritik.
Ronald: Dalam perspektif komunikasi, ini bukan sekadar perbedaan teologi, melainkan kekerasan simbolik: penggunaan mimbar, media, dan jabatan rohani untuk menyingkirkan yang lain, sambil bersembunyi di balik otoritas ilahi. Firman Tuhan direduksi menjadi alat legitimasi kepentingan denominasi, bukan lagi kabar baik yang memulihkan.
Ivan:: Anda mengkritik para penyerang karena menggunakan "Otoritas Ilahi" untuk melegitimasi posisi mereka. Namun, di akhir kalimat, Anda menetapkan standar bahwa Firman haruslah "Kabar baik yang memulihkan". Secara logis, definisi "memulihkan" pun adalah sebuah legitimatisi versi Anda. Siapa yang menentukan standar "memulihkan" itu? Jika standarnya adalah subjektivitas masing-masing, maka argumen Anda tidak memiliki daya ikat logis yang kuat untuk menyalahkan mereka.
Kemudian argumen Ronald terjebak dalam kontradiksi diri (self-defeating) karena jika penggunaan mimbar, media, dan jabatan rohani untuk menyatakan kebenaran dianggap sebagai "kekerasan simbolik", maka secara logis seluruh aktivitas pelayanan dan khotbah Ronald sebagai pendeta juga merupakan kekerasan yang sama terhadap mereka yang berbeda pandangan. Dengan menuduh lawan mereduksi Firman menjadi alat legitimasi, Ronald sebenarnya sedang melakukan hal yang sama: menggunakan konsep "kabar baik yang memulihkan" sebagai alat untuk melegitimasi posisi institusional Ronald sendiri dan membungkam kritik luar. Jika setiap klaim otoritas ilahi dianggap sebagai cara untuk "bersembunyi", maka secara absurd semua kesaksian iman di ruang public termasuk suara para nabi dan reformator harus ditolak sebagai tindakan penindasan, yang pada akhirnya mematikan kemungkinan adanya dialog teologis yang jujur dan berani. Inikah bentuk ilmu komunikasi berkualiats yang Ronald demonstrasikan?
Ronald: Di tengah situasi itu,
muncullah suara Romo Patris di ruang publik dan media sosial. Banyak yang
dengan cepat menyimpulkan bahwa beliau menyerang Protestanisme, Martin Luther,
bahkan GMIT. Sebagai orang yang belajar komunikasi dan secara otodidak memahami
sistem informasi dan dinamika media, awalnya saya pun resah. Namun keresahan
itu tidak berhenti pada reaksi emosional; ia saya bawa ke dalam proses
analisis.
Semakin saya mendengar, membaca,
dan berdialog, termasuk berbicara langsung dengan beliau, saya justru sampai
pada kesimpulan berbeda: Romo Patris tidak menyerang GMIT, tidak menyerang
Alkitab, dan tidak menyerang Firman Tuhan itu sendiri. Yang ia kritik adalah
praktik keberagamaan yang arogan, dangkal secara teologis, dan miskin etika
komunikasi iman, praktik, yang sayangnya juga sering kita jumpai di tubuh
Protestanisme sendiri.
Karena itu, jauh sebelum banyak orang ramai membicarakan beliau, saya telah lebih dahulu berbicara tentang beliau dan dengan beliau. Dan ketika kemudian ruang publik dipenuhi suara-suara reaktif, provokatif, dan penuh kecurigaan, saya memilih diam. Diam bukan karena takut, tetapi karena kasih. Kasih kepada gereja, kasih kepada sesama, dan kasih kepada Kota Kupang kota kasih yang juga nyata dalam diri Romo Patris.
Ivan: Ini bagian yang menarik! Entah sadar atau tidak Ronald melakukan Appeal to Authority, dimana Ronald bertindak sebagai otoritas intelektual sebagai seorang pembelajar komunikasi yang “berbicara langsung” dengan subjek (Patris Allegro). Secara logis, kedekatan personal atau gelar akademik tidak otomatis menjamin kebenaran kesimpulan. Ini bisa menjadi bias Subjektivitas. Validitas pernyataan "Romo Patris tidak menyerang" seharusnya dibuktikan dengan analisis teks/data dari apa yang beliau ucapkan di ruang publik, bukan berdasarkan testimoni hasil dialog pribadi yang tidak bisa diakses publik. Masih dengan pertanyaan yang sama: Inikah kualitas Komunikasi yang Ronald demonstrasikan?
Ronald: Dalam iman Kristen, tidak
semua kritik adalah serangan, dan tidak semua perbedaan adalah ancaman. Yang
justru berbahaya adalah ketika orang-orang yang “terlalu lama dibiarkan” terus
bersembunyi di balik jabatan gerejawi dan ayat-ayat Alkitab, sambil merusak
kesaksian gereja di ruang publik. Di situlah gereja termasuk GMIT dipanggil
bukan untuk defensif, tetapi untuk dewasa: membedakan roh, menata ulang etika
pewartaan, dan menghadirkan Injil sebagai kabar damai, bukan senjata ideologis.
Gereja lokal tidak lahir untuk
diseragamkan, tetapi untuk setia pada konteks, sejarah, dan panggilan Allah di
tanahnya sendiri. Dan iman yang dewasa tidak takut pada dialog, sebab kebenaran
sejati tidak perlu berteriak untuk membenarkan diri.
Salam GMIT "Satu Untuk
Semua, Semua Untuk Satu. Satu Untuk Kemuliaan Tuhan Yesus.
Tuhan Memberkati.
Ivan: Argumen ini mengandung
cacat logika standar ganda dan kontradiksi internal yang fatal. Ronald
menuntut kedewasaan untuk tidak defensif dan tidak "bersembunyi di balik
jabatan", namun Ronald sendiri menggunakan otoritas jabatan pendeta dan
slogan institusional (Salam GMIT) untuk membentengi gereja lokal dari kritik
luar dengan label "merusak kesaksian". Klaim bahwa "kebenaran
sejati tidak perlu berteriak" secara logis menghancurkan urgensi tulisan
Anda sendiri; jika kebenaran memang tidak perlu dibela dengan suara keras, maka
narasi Anda yang panjang lebar untuk membenarkan posisi GMIT adalah tindakan
yang mubazir atau, sebuah tanda ketidakdewasaan. Pada akhirnya, Anda terjebak
dalam No True Scotsman fallacy dengan mendefinisikan "iman
dewasa" hanya sebagai pihak yang sejalan dengan etika komunikasi versi
Anda, sehingga menutup ruang dialog jujur terhadap substansi kritik yang
mungkin benar meskipun cara penyampaiannya tidak menyenangkan telinga Ronald.
Demikian tanggapan beta terhadap keseluruhan Tulisan Pdt, Ronald Hinaweni yang menurut beliau disusun berdasarkan ilmu komunikasi beliau. Apakah ini berarti ilmu Komunikasi yang berkualitas itu boleh melakukan Logica Fallacy? Mungkin menurut Ronald demikian. Dan semoga saja Ronald tidak menganggap bahwa tanggapan ini adalah bentuk ‘serangan’ terhadap Ronald yang bersifat negatif (mengingat natur dari tulisan Ronald ini). Terakhir, beta masih menyisakan satu pertanyaan dlam hati beta yang terdalam, yaitu: apa motif dari Ronald yang adalah seorang pendeta GMIT yang harusnya bertugas melakukan pembelaan iman dan melindungi para domba dari serangan – serangan iman dari luar, tapi Nampak membela Patris Allegro yang menyerang doktrin – doktrin primer gereja secara membabi-buta?
Mantap pak Ivan, sudah membuat tanggapan yang mencerahkan. Beliau mengaku pernah belajar ilmu komunikasi, tetapi di dalam narasinya justeru melakukan banyak strawman argumen. Lanjutkan.
BalasHapus