Kalau tidak salah ingat, Pdt. Ronald Hinaweni ini pernah janjian untuk berdisusi dengan kami sewaktu Sidang Istimewa kemarin tapi tak kunjung ada, tau-taunya muncul dengan tulisan ini . Ok, berikut ini adalah tanggapan beta untuk Pdt. Ronald Hinaweni, yang akan beta tanggapai secara per poin dari argumen – argumen maupun komentar - komentar beliau. GEREJA LOKAL, ARUS DENOMINASI DAN ETIKA KOMUNIKASI IMAN. Ronald : Saya adalah seorang pendeta GMIT, Kristen Protestan. Sejak masa studi teologi S1, saya telah bergumul bukan hanya dengan ilmu teologi, tetapi juga dengan ilmu komunikasi. Pergumulan itu lahir dari sebuah keresahan panjang: derasnya arus masuk denominasi-denominasi Kristen Protestan ke wilayah gereja lokal, termasuk GMIT, yang dari waktu ke waktu tidak hanya hadir sebagai mitra, tetapi sering tampil sebagai penyerang. Pola ini berulang. Setiap ketua sinode baru dilantik, gereja lokal kembali menjadi sasaran delegitimasi. Bukan melalui dialog teologis y...
Ini adalah salinan diskusi beta dengan seorang suster Katolik Bernama Ida Frederika Kuil di lapak seorang teman, di sini . Diskusi berawal ketika suter Ida menanggapi postingan seorang teman tersebut, kemudian beta mananggapi suster tersebut, dan kita berdua pun saling menanggapi. Berikut diskusi beta dan suster Ida Frederika Kuil. Selamat menikmati. Ida Frederika Kuil: Argumen yang kau kemukakan dalam percakapan menunjukkan kesalahpahaman mendasar tentang ajaran Katolik mengenai Maria dan dosa asal: Pertama, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa karena Maria melahirkan Yesus, maka Maria harus secara biologis menurunkan “ketiadaan dosa” kepada-Nya. Ketidaktercemaran Maria bukan hasil logika biologis, melainkan anugerah ilahi yang diberikan oleh Allah karena rencana keselamatan-Nya melalui Kristus. Dogma Immaculata Conceptio (Maria dikandung tanpa noda dosa asal) menyatakan bahwa Allah menebus Maria secara istimewa sejak awal hidupnya, bukan karena Maria sec...
Beta akan mendemonstrasikan bagaimana menggunakan atau memanfaatkan AI, dimana beta sebagai yang mengarahkan AI (bukan bergantung pada AI). Jadi kita latih dulu aplikasi AI yang kita pakai (di sini beta gunakan Chat GPT & Gemini) dengan prompt yang tepat agar penilaian dan ulasan AI tersebut berkualiatas dan komprehensif. Prompt tersebut beta minta pada AI yang beta pakai untuk dia simpan dalam memorinya untuk semua pembahasan apapun. Prompt yang beta pakai adalah melatih AI tersebut agar tunduk pada Hukum Pemikiran (Laws of Thought) dan tentu saja deduksinya hanya bisa dideduksi dari WAHYU (Alkitab). Setelah itu kita uji dia dengan berbagai isu untuk dia bahas. Tentu saja masih akan ada kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan AI tersebut. Nah, kesalahan – kesalahan tersebut kita koreksi dan minta dia untuk simpan sebagai memorinya. Teruslah anda latih AI anda sampai menurut anda ulasannya sudah cukup presisi. Terakhir, dalam membahas isu - isu yang anda inginkan, cukup anda petak...
Komentar
Posting Komentar